Bukti Kebenaran

Ilmu Pengetahuan dalam Al-Quran, Buktikanlah Kalau Isi Al-Quran itu Salah
“Saya menyarankan anda yang Muslim, jika suatu ketika anda terlibat dalam perdebatan tentang Islam dengan orang lain dan mereka mengklaim bahwa mereka memiliki kebenaran sementara anda dalam kegelapan, anda harus meninggalkan dulu semua argumen dan bersikaplah seperti ini; tanya pada mereka, Apakah ada ujian tentang pemalsuan dalam agama anda? Apakah ada dalam agama anda yang bisa membuktikan bahwa anda salah jika saya bisa membuktikan pada anda bahwa kesalahan itu ada-apapun itu? Well, saya bisa menjanjikannya sekarang bahwa manusia tidak akan memiliki apa-apa-tidak ada ujian, tidak ada bukti, tidak ada apapun! Karena mereka tidak menyadari pemikiran bahwa mereka tidak hanya harus membeberkan apa yang mereka yakini tapi juga harus memberikan kesempatan pada orang lain untuk membuktikan bahwa mereka salah. Dan Islam melakukan itu,” demikian penegasan Dr. Gary Miller dalam artikelnya berjudul Pendekatan Ilmu Pengetahuan terhadap Al-Quran yang dimuat situs Islamonline.
Gary Miller adalah seorang warga negara Kanada, mantan menteri dan ahli teologi yang memilih beralih ke agama Islam dan kini aktif berdakwah dan menyebarluaskan ajaran Islam ke seluruh dunia. Dalam artikelnya itu, Miller menegaskan bahwa Al-Quran menjelaskan banyak hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan, jauh sebelum manusia mampu menjangkaunya. Al-Quran menurut Miller sudah memberikan sesuatu yang tidak diberikan oleh kitab Injil secara khusus, maupun kitab-kitab suci lainnya secara umum. Yaitu apa yang menjadi tuntutan para ilmuwan.
Buktikanlah Kalau Al-Quran itu Salah

Saat ini, banyak orang yang melontarkan pemikiran dan aneka teori tentang bagaimana alam semesta ini bekerja. Mereka ada di mana-mana, namun komunitas ilmuwan bahkan tidak peduli untuk mendengarkan ide-ide dan pemikiran mereka. Hal ini karena, dalam seabad belakangan ini komunitas ilmuwan kerap meminta sebuah uji coba. “Jika anda punya teori, jangan mengganggu kami dengan teori itu kecuali anda membawa teori itu pada kami untuk membuktikan apakah anda salah atau tidak,” kata sejumlah ilmuwan.
Pengujian semacam itulah yang membuat kalangan ilmuwan mau mendengarkan Einstein ketika ia datang dengan teori barunya dan mengatakan, “Saya yakin alam semesta bekerja seperti ini, dan inilah tiga cara untuk membuktikan apakah saya salah!” Maka para ilmuwan yang keberatan dengan teorinya melakukan uji coba dengan melakukan tiga cara itu, dan dalam waktu enam tahun tiga cara itu lulus pengujian. Tentu saja, ini tidak membuktikan bahwa Einstein hebat, tapi ini membuktikan bahwa ia layak didengar ketika ia mengatakan, “Ini ide saya, dan jika anda mau berusaha untuk membuktikannya, lakukan ini atau itu.”
Inilah sebenarnya yang dimiliki Al-Quran, pengujian pemalsuan. Beberapa di antaranya sudah dilakukan dan beberapa di antaranya masih menjadi subyek pengujian hingga sekarang. Intinya Al-Quran menekankan, “Jika kitab ini tidak sesuai dengan apa yang diklaimnya, maka yang bisa dilakukan oleh anda semua adalah ini, ini atau ini untuk membuktikan bahwa Al-Quran itu salah.” Dan selama 1.400 tahun tak seorangpun yang mampu membuktikan bahwa apa yang diklaim dalam Al-Quran salah. Isi Al-Quran tetap dinilai sebagai kitab yang benar dan otentik.
Miller mengungkapkan, contoh sempurna tentang bagaimana Islam menawarkan pada manusia sebuah kesempatan untuk membuktikan keasliannya dan membuktikan bahwa Al-Quran salah, ada di surat keempat. Terkait dengan hal ini, Miller dalam artikelnya mengaku tercengang ketika pertama kali ia menemukan tantangan ini dalam Al-Quran;
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya,” An-Nisaa’: 82.
Ayat ini merupakan tantangan bagi non Muslim. Pada dasarnya, ayat ini mengajak mereka untuk menemukan kesalahan dalam Al-Quran. Kenyataannya, di samping keseriusan dan kesulitan dari tantangan ini, yang pertama kali menjadi tantangan sebenarnya dari ayat ini bahkan bukan masalah sifat manusia dan tidak terkait dengan kepribadian manusia. Seseorang tidak mengikuti ujian di sekolah dan setelah ujian itu selesai, ia menulis sebuah catatan pada instrukturnya dan akhirnya mengatakan, “Ujian ini sempurna. Tidak ada kesalahan dalam ujian ini. Carilah satu saja kesalahannya jika anda bisa!.” Seseorang tidak akan melakukan itu. Gurunya tidak akan tidur sampai menemukan sebuah kesalahan dan beginilah cara Al-Quran melakukan pendekatan pada umat manusia.
Kisah tentang Embrio

Hal menarik lainnya yang ada dalam Al-Quran adalah ayat-ayat Al-Quran yang berulang kali memberikan nasehat pada umat manusia. Al-Quran memberikan informasi tentang berbagai fakta dan memberikan nasehat: “Jika kalian ingin tahun tentang hal ini atau hal itu, atau jika kalian ragu apa yang dikatakan kitab ini, maka kalian harus bertanya pada mereka yang memiliki pengetahuan.” Dan sepanjang masa selalu saja ada umat Islam yang mengikuti nasehat Al-Quran itu dan berhasil menemukan sesuatu yang mengejutkan. Jika seseorang melihat hasil penelitian berabad-abad yang lalu, seseorang itu akan menemukan banyak kutipan dari Al-Quran bahwa penelitinya melakukan riset itu di suatu tempat, untuk menemukan sesuatu dan mereka memastikan alasan mereka untuk meneliti tempat ini dan tempat itu adalah, karena Al-Quran mengarahkan mereka ke tempat-tempat tersebut.
Contohnya, kata Miller, Al-Quran menyebut tentang asal-usul manusia dan memerintahkan pada pembacanya untuk menyelidiki hal itu. Al-Quran memberi petunjuk bagi pembacanya di mana mereka bisa melihat dan menyarankan agar manusia menemukan lebih banyak lagi tentang hal ini. Beginilah seharusnya umat Islam hari ini bersikap ketika melihat sesuatu.

Terkait dengan hal ini, Miller mengungkapkan sebuah pengalaman yang terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika sekelompok orang dari Riyadh, Arab Saudi mengumpulkan semua ayat-ayat dalam Al-Quran yang membicarakan masalah embriologi, yaitu pertumbuhan janin manusia di dalam rahim ibu. Kelompok itu mengatakan, “Inilah apa yang dikatakan Al-Quran, apakah ini kebenaran? Dan kelompok itu mengikuti nasehat Al-Quran agar mereka bertanya pada orang yang tahu. Mereka pun memilih, kebetulan orang yang dipilih itu non Muslim, seorang profesor pakar embriologi di Universitas Toronto. Namanya adalah Keith Moore dan dia adalah pengarang buku-buku teks tentang embriologi-pakar tingkat dunia di bidang itu. Kelompok orang itupun mengundang Moore ke Riyadh dan mengatakan, “Inilah apa yang dikatakan Al-Quran tentang embriologi. Apakah ini benar? Apa yang bisa anda jelaskan pada kami?”
Selama berada di Riyadh, kelompok orang itu membantu Moore dalam segala hal termasuk penerjemah dan segala sesuatu yang terkait dengan pertanyaan yang diajukan padanya. Moore sangat tercengang atas apa yang ia temukan yang kemudian membuatnya mengubah semua buku teks yang pernah ditulisnya. Hal itu terlihat dalam edisi kedua buku-buku teksnya, berjudul Before We are Born. Dalam bab yang menjelaskan tentang sejarah embriologi, Moore memasukkan sejumlah materi yang tidak ada dalam buku edisi pertamanya, karena ia baru menemukannya dalam Al-Quran setelah buku edisi pertama itu. Dan mereka yang meyakini Al-Quran sudah lebih dulu tahu apa yang orang lain tidak tahu.

Miller berkesempatan mewawancarai Dr. Keith Moore untuk keperluan acara televisi, dan ia banyak mendiskusikan masalah embrio itu. Diskusi itu juga dilengkapi dengan ilustrasi melalui gambar-gambar slide. Moore menyebutkan beberapa hal yang tersebut dalam Al-Quran tentang pertumbuhan janin. Moore mengakui bahwa salah satu hal yang secara khusus dijelaskan dalam Al-Quran tentang manusia yang berasal dari segumpal darah (Al-Hajj:5; Al-Mu’muminun:14; Ghafir:67) adalah sesuatu yang baru baginya. Moore mengatakan, “Saya tidak berfikir tentang hal itu sebelumnya.”
Reaksi Skeptis

Moore juga menulis sebuah buku tentang embriologi klinis, dan ketika ia membeberkan informasi ini di Toronto, sempat menimbulkan pro dan kontra di Kanada. Pemikiran Moore tentang hal ini menghiasi halaman depan surat kabar-surat kabar di seluruh Kanada dan beberapa surat kabar menempakannya sebagai berita utama dengan judul yang terdengar lucu ‘Sebuah Hal yang Mengejutkan Ditemukan Dalam Buku Doa Kuno!’. Dari contoh ini jelas terlihat bahwa masyarakat tidak memahami dengan jelas persoalan yang sesungguhnya.
Seorang reporter surat kabar bertanya pada Profesor Moore, “Tidakkah anda berfikir bahwa orang-orang Arab kemungkinan sudah mengetahui hal-hal semacam ini-penjelasan tentang janin, bentuk rupanya dan bagaimana janin berubah dan tumbuh? Mungkin mereka bukan ilmuwan, mungkin mereka melakukan pembedahan kejam yang mereka lakukan sendiri-membelah manusia dan meneliti janin-janin itu.”
Profesor Moore langsung menunjuk si reporter itu dan mengatakan bahwa si reporter tersebut sudah melewati sebuah poin yang sangat penting bahwa semua gambar slide tentang embrio yang telah ditunjukkan dan sudah direkam dalam film berasal dari gambaran-gambaran yang diambil melalui mikroskop. Moore menegaskan, “Tidak masalah jika seseorang sudah berusaha menemukan ilmu embriologi 14 abad yang lalu. Mereka seharusnya sudah bisa melihat ini!”
Semua penjelasan dalam Al-Quran tentang kemunculan embrio adalah ketika embrio itu masih sangat kecil untuk dilihat dengan mata telanjang, oleh sebab itu dibutuhkan mikroskop untuk melihatnya. Sementara mikroskop baru ditemukan sekitar dua ratus tahun yang lalu, Moore dengan nada sinis membuat lelucon pada reporter itu, “Mungkin 14 abad yang lalu, seseorang dengan diam-diam memiliki mikroskop dan melakukan penelitian, bukan sebuah kebetulan semata. Kemudian seseorang itu mengajarkan Muhammad SAW dan meyakinkannya agar menempatkan tentang penemuannya itu dalam kitabnya dan merahasiakannya selamanya. Anda percaya dengan itu? Sebaiknya tidak kecuali anda memberikan bukti, karena ini merupakan teori yang aneh.”
Kemudian ketika ditanya lebih lanjut, bagaimana Moore menjelaskan informasi ini seperti yang ada dalam Al-Quran, Moore menjawab, “Ini hanya bisa diungkapkan dengan kebesaran Tuhan!”

Tinggalkan komentar